Hitung Mundur Hari Ulang Tahun Mu Chiko thx boz cool bgt dach Kopdar Batik macangadungan wakakak aku baru liat postingan Kyai Bima Assalamualaikum WrWb (biasa Kyai) Judul Skripsi Tugas Akhir Teknik Informatika Manajemen Informatika Sistem Informasi Teknik Komputer Teknik Elektro putu (1927 Rancang Bangun Aplikasi Permainan MULIARDI Mig33 Chatting YM GTalk MSN AIM Melalui Handphone Ponsel devi mo nanya nesy kan udh Judul Skripsi Tugas Akhir Pendidikan Matematika Terbaru NELVI KALAU TENTANG PELAJARAN STATISTIKA UNTUK gita gita Pengumuman Penerimaan CPNS Kabupaten Tuban Tahun 2009 anonymous pengumumannya mn nih??? anonymous mohon infonya dunk kapan ya anonymous kapan pengumumane ? Skripsi Tugas Akhir Bahasa Inggris khaerul anam 755084 khaerul anam 852554 Desain Kartu Nama sedoso aku ajarin dongpliss Keane - Try Again (Live) Kyai Bima Assalamualaikum WrWb iki sing download karo Keane - Somewhere Only We Know Kyai Bima Assalamualaikum WrWb (Kyai mesti ngucapno Tidur-tiduran dan Akhirnya Tertidur Zawa hmmm biasanya diumumkan di radar dewi isyaroh thanks for game dewi isyaroh kapan ya pengumuman hasil tes .
 Religius11 September 2008 3:36 am 

Sesungguhnya desah nafas telah terhitung. Jumlah detik telah ditetapkan. Kian hari sisa nafas kian berkurang. Detikpun kian habis. Sebodoh-bodoh diantara manusia adalah manusia yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia. Sebodoh-bodoh manusia adalah yang diberi nafas dan nafasnya untuk sia-sia. Diberi waktu dan waktu terhambur sia-sia. Demi Allah kian hari kian dekat dengan saat perpisahan. Namun perhitungan akan teramat berat. Hisab akan menjadi nyata. Saudaraku jangan pernah biarkan nafas tersia, waktu tersia, Allah lah setiap nafas dan detik yang kita tuju.

 Religius9 September 2008 3:34 am 

Alangkah nestapa jalan dalam kegelapan. Bagai dalam lorong gua yang gulita. Setiap langkah penuh ketakutan dan keraguan. Kepala terluka terbentur, badan tergesek kaki terpeleset. Dari waktu ke waktu hanyalah kecemasan. Sungguh beruntung bagi orang-orang yang jalan di tengah terang-benderangnya cahaya. Setiap langkah begitu mantab. Setiap duri mudah dihindari. Setiap yang berbahaya mudah dijauhi.

Cahaya menumbuhkan keteguhan. Cahaya bisa menikmati setiap langkah. Cahaya bisa menghindari kemudaratan. Dialah cahaya dari Dia yang Maha Memberi Petunjuk. Hidayah adalah cahaya yang akan membuat hidup ini tampak terang-benderang. Kian mantab menjalani hidup. Kian indah menjalani hidup. Berbahagialah yang selalu rindu akan hidayah. Berbahagialah bagi yang diselimuti hidayah Allah SWT.

 Religius8 September 2008 3:31 am 

Cinta adalah nikmat dari Allah yang membuat dunia menjadi tiada bertepi. Lebih dalam dari lautan yang dalam. Lebih tinggi dari angkasa membumbung. Berbahagialah yang dihidupkan hatinya dengan cinta. Namun waspadalah bagi orang yang dibutakan hatinya dengan cinta. Seindah-indah cinta adalah cinta kepada penggenggam alam semesta. Kepada yang Maha Mencinta yang tiada pernah terputus cintanya, yang kekal cintanya.

Dialah Allah… Allah yang Maha Agung, Maha Indah, Maha Penyayang, Maha Membela, Maha Mempesona. Saudaraku bahu-membahulah membangun cinta dengan para pecinta, cinta kebenaran, cinta Rasulullah, cinta semata-mata karena Allah.

 Religius11 June 2008 8:43 am 

Inilah sifat mereka. Ketika orang-orang bodoh melontarkan ucapan buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama, namun mema’afkan. Senantiasa berkata yang baik, tidak terprovokasi oleh kejahilan orang tersebut. ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar Rahman sejati). Sosok-sosok pilihan, pribadi dambaan. Mereka dilansir secara tersendiri dalam lembaran-lembaran firman Allah subhanahu wata’ala. Merekalah yang mendapat pujian khusus dari-Nya.

Lalu bagaimana dengan karakteristik hamba-hamba yang memiliki kedudukan mulia tersebut? Ikuti sajian yang berikut! Di antara sifat dan karakter yang melekat pada mereka adalah :

TAWADHU’ (RENDAH HATI)
Allah subhanahu wata’ala menggambarkan keadaan mereka dalam firmanNya, “ (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” ( Al-Furqan : 63 )
Sifat pertama seorang hamba yang menyandang gelar “ ‘ibadurrahman adalah tawadhu’. Tatkala berjalan di atas bumi ini mereka sangat enteng dan ringan, tidak direkayasa, tidak sombong, ataupun angkuh. Tidak berjalan dengan sangat cepat yang menunjukkan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalan dengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal. Namun insan-insan pilihan ini berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad, kelelakian, dan jiwa muda.
Merekalah yang mengimplementaskan firmanNya , “ Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.” (Luqman : 19 ).
Maknanya adalah sedang-sedang saja dalam semua urusan, tidak berlebihan atau keterlaluan sekali.

‘Ibadurrahman berjalan di pelosok bumi untuk mencari rizki dan tuntutan hidup dengan penuh kelembutan dalam koridor yang diperkenankan Allah subhanahu wata’ala. Tidak rakus, tamak, menyia-nyiakan kewajiban, melakukan hal-hal yang diharamkan, atau pun berbuat mubadzir.

Mereka teramat jauh dari sikap keras, melecehkan orang lain, sombong, berbangga, dan berbesar diri. Mereka tidak berbuat kerusakan di muka bumi, mencari ketinggian, lebih mendahulukan keuntungan duniawi yang fana, tidak berusaha semata hanya untuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang dengan kenikmatan kehidupan duniawi.

RIFQ (LEMAH LEMBUT)
Karakter yang berikutnya adalah sebagaimana firman-Nya, “ Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” ( Al Furqan : 63)

Inilah sifat mereka. Ketika orang-orang bodoh melontarkan ucapan buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama, namun mema’afkan. Senantiasa berkata yang baik, tidak terprovokasi oleh kejahilan oran tersebut, malah, mereka mampu menahan lisan dan emosi.

Yang menjadi patokan mereka dalam hal ini adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, insan paling lemah lembut. Begitu indah satu kisah yang menunjukan keagungan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Suatu ketika ada seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata kasar, lalu kaum muslimin marah dan ingin memberinya pelajaran, namn hal itu dicegah oleh beliau. Beliau membalas sikap kasar itu dengan kasih sayang dan lemah lembut.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih).

BANYAK BERSUJUD DAN BERDIRI
Allah meneruskan gambaran pribadi ini dalam firman-Nya, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”(Al Furqan : 64).

Allah menyebut para hamba-Nya sebagai orang yang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun saat orang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah, sibuk menyongsong Rabb mereka, mengantungkan jiwa dan angota badan mereka kepada-Nya. Manakala yang lain terlena dan merasa mantap dengan kehidupan duniawi, mereka menginginkan ‘Arsy ar-Rahman sebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapat menjauhkan mereka dari sifat riya dan minta dipuji. Ibadah di malam hari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwa serta penerangan bagi penglihatan mereka.

Saat berdiri di hadapan Allah dan mengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dan kebahagiaan yang tak terkira. Tiada lagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah , bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. Melakukan Qiyamullail merupakan sifat asli ‘ibadurrahman. Allah menyebut mereka dengan sifat itu dalam banyak ayat dan menganjurkan para Nabi-Nya untuk melakukan hal itu.

TAKUT NERAKA
Sebagaimana firman-Nya, “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al-Furqan : 65-66).

Sekalipun ‘ibadurrahman sangat ta’at dan hari mereka dipenuhi dengan ketakwaan, namun mereka senantiasa merasa amalan dan ibadah mereka masih kurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasa aman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia dan rahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karena itu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzab Jahannam.

Mereka selalu memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar Dia menghindarkan mereka dari adzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinya ataupun penghuni sementaranya. Inilah sifat setiap mukmin ang bersungguh-sungguh dalam berbuat ta’at dan takut akan adzab Allah subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang lain, “ Dan orang-orang yang takut terhadap adzab Rabbnya. Karena sesunguhnya adzab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).” (Al-Ma’arj : 27, 28 ).

EKONOMIS, TIDAK BOROS
Allah subhanahu wata’ala mengatakan, “ Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) merka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu ) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan : 7)

‘Ibadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir, membelanjakan harta melewati batas keperluan. Karena orang-orang yang berbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruh berbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertanggungjawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala terhadap harta mereka; dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakan. Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluarga mereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaq untuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata’ala, sebab mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala telah mencela kekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhil dan mengindari pelakunya.

Metode berinfaq ‘ibadurrahman adalah moderat dan pertengahan, antara bakhil dan boros. Mereka berada di puncak pertengahan antara boros dan bakhil. Mereka meletakkan ayat Allah subhanahu wata’ala, “ Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’: 29)

Maksudnya janganlah kita memiliki sifat bakhil, yang bermuara tidak mau memberi sesuatu kepada siapa pun. Jangan pula bersifat boros dalam mengeluarkan harta, hingga melebihi kadar kemampuan yang ada pada kita. Namun bersifat tengah antara boros dan kikir, itulah hamba yang bijaksana lagi mulia.

Sumber : Shifaat ‘Ibaadirrahman Fii Al-Qu’an, disusun oleh Bagian Ilmiah penerbit Darul Wathan.
Disalin ulang dari majalah Elfata edisi 06 volume 07 tahun 2007 hal 21-23.

 Religius13 May 2008 8:20 am 

Dalam Surat Al-Maidah ayat 6, Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum menunaikan shalat. Wudhu adalah membasuh bagian tertentu yang ditetapkan dari anggota badan dengan air dengan niat membersihkan hadast sebagai persiapan menghadap Allah Ta’ala (mendirikan shalat). Untuk mendapatkan shalat yang sah tentu saja terlebih dahulu kita harus menyempurnakan wudhu kita. Lalu, sudahkah kita melakukannya?

Kesempurnaan wudhu dikembalikan kepada syarat ibadah secara mutlak yakni ikhlas karena Allah dan ittiba (mengikuti contoh dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam), sebagaimana sabda beliau dalam sebuah riwayat : Muslim meriwayatkan dari Utsman Radiallahuanhu, ia berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini, lalu beliau bersabda : ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni, sementara shalat sunnahnya dan perjalanan menuju masjid menjadi penyempurna bagi dihapuskannya dosa-dosanya” (HR. Muslim) [1] Mengenai wudhu yang dilaksanakan Utsman radiallahuanhu yang juga merupakan tata cara wudhu yang dilaksanakan Rasulullah dijelaskan dalam sebuah riwayat : Dari Humran Maula (bekas budak) Utsman radiallahuanhu, bahwasanya Utsman pernah meminta air wudhu, kemudian beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya,lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya sampai siku tiga kali, lalu tangan kirinya sama seperti itu, kemudian menyapu kepalanya, lalu membasuh kedua kakinya yang kanan sampai kedua mata kaki tiga kali, kemudian yang kaki kirinya sama seperti itu, lalu ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam berwudhu’ seperti wudhu’ku ini” (Muttafaq A’laih) [2]

Fardu Wudhu

Wudhu memiliki beberapa fardhu dan rukun yang ditertibkan secara berurutan. Jika ada salah satu diantara fardhu tersebut yang tertinggal, maka wudhunya tidak syah menurut syariat. Fardhu wudhu tersebut adalah sebagai berikut :

1. Niat
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam: “Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya” (HR. Bukhari Muslim). Niat adalah kemauan dan keinginan hati untuk berwudhu. Juga pada apa yang disebutkan pada hadist, bahwa niat itu bermuara pada hati, sedangkan melafazhkannya bukanlah merupakan sesuatu yang disyariatkan. [2]

2. Membasuh Wajah
Kewajiban membasuh wajah di dalam berwudhu itu hanya sekali. Yaitu dari bagian atas dahi sampai bagian dagu yang bawah dan dari bagian satu telinga ke bagian bawah telinga yang lain. Sebagaimana difrmankan oleh Allah Azza wa Jalla : “Wahai orang-orang yangberiman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah muka.” (QS. Al-Maidah : 6) Air wudhu itu harus mengalir pada wajah, karena mengalir disini berarti mengalirkan. [2]

3. Membasuh kedua tangan
Yaitu sampai ke siku dan yang diwajibkan hanya satu kali saja, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kemudian tangan kalian sampai ke siku” (QS.Al-Maidah : 6)

4. Mengusap Kepala
Pengertian mengusap adalah membasahi kepala dengan air. Hal ini seperti difirmankan oleh Allah Ta’ala : “Dan usaplah kepala kalian” (QS. Al-Maidah : 6)Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahuanhu diriwayatkan mengenai sifat wudhu Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam, beliau mengatakan : “Beliau mengusap kepalanya satu kali” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’I dengan isnad shahih) [2] Bahkan Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa yang lebih rajih (benar) mengenai usapan kepala adalah sebanyak satu kali saja. Selanjutnya, ada tiga cara yang diperoleh dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, yaitu :

a. Mengusap seluruh kepala, di dasarkan pada riwayat : Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Radiallahuanhu, beliau berkata : “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam mengusap kepalanya dengan kedua tangan, dari arah depan ke belakang dan dari arah belakang ke depan (Muttafaq ‘Alaih) –Shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim.Dalam lafazh yang lain menurut riwayat keduanya (al-Bukhari dan Muslim), “Beliau memulai dari bagian depan kepalanya hingga menjalankan kedua tangannya ke tengkuknya kemudian mengembalikan ke tempat semula” [3]. Selain itu juga disyariatkan untuk menyertakan telinga pada saat mengusap kepala : Dari Abdullah bin Amr Radiallahuanhu, beliau berkata : “Kemudian beliau (Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam) mengusap kepalanya dan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam telinganya serta mengusap bagian luar telinganya dengan kedua ibu jarinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’I serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah) [3]

b. Membasuh bagian atas surban. Hal ini di dasarkan pada hadist yang diriwayatkan dari Amr bin Umayyah Radhiallahuanhu, dimana ia menceritakan : “Aku pernah melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam mengusap bagian atas surban dan kedua kakinya” (HR. Imam Bukhari, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)Berdasarkan pada hadist ini, maka wanita muslimah diperbolehkan membasuh muka dan mengusap bagian atas kerudungnya dengan air.

c. Mengusap bagian depan kepala dan surban. Hal ini di dasarkan pada hadist dari Mughirah bin Syu’bah, dimana ia menceritakan : “Bahwa Nabi berwudhu’ kemudian mengusap bagian depan kepala dan bagian atas surbannya serta kedua kaki” (HR.Muslim)

Jika rambut seorang wanita muslimah dikepang, maka tidaklah cukup hanya dengan menusap kepaangan rambutnya saja. Karena yang menjadi hokum pokok dalam hal ini adalah mengusap kepala. Pada sisi lain diperbolehkan membasuh bagian depan kepala, sesuai dengan hadist dari Anas bin Malik Radiallahuanhu, dimana aia menceritakan :“Aku pernah melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam berwudhu’ sedang beliau memakai surban dari Qatar. Maka beliau menyelipkan tangannya dari bawah surban untuk menyapu kepala bagian depan, tanpa melepas surban itu. (HR. Abu Dawud)

5. Membasuh kedua kaki
Yaitu membasuh kakki hingga mencapai kedua mata kaki. Hal ini didasarkan pada firman Allah Azza wa Jalla :“Basuhlah kedua kaki kalian sampai kedua mata kaki” (Al-Maidah : 6)

Demikian itulah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Umar Radhiallahuanhu :“Rasulullah pernah tertinggal di belakang kami dalam suatu perjalanan. Pada saat itu kami mengetahui datangnya waktu ashar. Kemudian kami berwudhu’ dan membasuh kedua kaki kami. Sembari melihat kea rah kami, beliau berseru dengan suara keeras mengatakan :”dua atau tiga kali!” Celaka bagi tumit-tumit (yang tidak kena air) dari siksaan api neraka”. (Muttafaqun Alaih)Para sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah bersepakat untuk membasuh kedua tumit hingga mata kaki.

6. Tertib dalam membasuh anggota-anggota tubuh diatas.
Sebagaimana disebutkan dalam surat al-maidah ayat 6 :“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai ke siku. Kemudian sapulah kepala kalian serta basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki” (Al-Maidah : 6)

7. Berwudhu’ satu kali (sekaligus) dalam satu waktu.
Yaitu, tidak terselang waktu terlalu lama antara satu fardu ke fardhu yang lain. Selain itu, anggota tubuh yang terkena air wudhu harus kering dalam satu waktu. Namun, diberikan keringanan pada selang waktu yang tidak tertalu lama, jika habis atau terputusnya aliran air dan sulit untuk mendapatkan air kembali.

Referensi :
[1] Ringkasan Riyadush Shalihin (An-Nawawi) oleh Syaikh Yusuf An-Nabhani, Penerbit ibs
[2] Fiqih Wanita, oleh Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Penerbit Pustaka Al-Kautsar[3] Terjemah Bulugul Maram, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penerbit Pustaka Imam Adz-Dzahabi.

 Religius13 April 2008 8:27 am 

Sebelum penulis menjelaskan hakikat hasad, pembagiannya, bahayanya, pendorongnya dan pengobatannya, penulis sajikan terlebih dahulu akhlaq yang mulia yang merupakan lawan dari sifat iri dan dengki.

KEUTAMAAN MEMBEBASKAN HATI DARI IRI DAN DENGKI
Membebaskan hati dari iri dan dengki sangatlah berat. Hasad (iri dan dengki) dalam jiwa manusia tidak akan pernah sirna, dan setan akan masuk dari pintu ini untuk mengelincirkan manusia. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyatakan jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya dan yang mulia yang menyembunyikannya.

Allah berfirman (yang artinya) :
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahannya) orang ….” (QS. Ali imran[3]: 134)

Juga firman Allah (artinya) :
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura[42]: 40)

Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sekarang akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang penghuni surga.” Kemudian muncullah seseorang dari kaum Anshar di hadapan para sahabat dengan kondisi jenggotnya mengalirkan air berkas wudhunya, kejadian itu terjadi sampai tiga hari, sehingga pada hari yang ketiganya diikuti Abdullah bin ‘Umru ke rumahnya, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan amal yang dilakukan orang itu, tetapi Abdullah bin ‘Umru tidak mendapatkan kelebihan selain kalau ia terbangun dia mengingat Allah, dia pun tidak didapati mengerjakan shalat malam, maka hamper saja Abdullah bin ‘Umru menghinakan amal orang itu, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda atasmu: ‘Akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang di antara penghuni surge, tiga kali.’ Kemudian kamu muncul tiga kali, kemudian aku bermalam di rumahmu dengan tujuan untuk mengetahui apa yang kamu amalkan, kemudian aku mengikutimu, hanya saja aku tidak melihat amal yang lebih utama.” Orang itu menjawab, “Itu yang kamu lihat.” Maka tatkala orang itu mau berpaling orang itu memanggilku lalu berkata (yang artinya) :
ما هو إلاّ ما رأيت, غير أنّي لا أجد في نفسي لأحد من المسلميمين غشّا, ولا أحسده على شيء أعطاه الله إيّاه
“Tidak ada kelebihan selain yang kamu lihat, hanya saja tidak ada dalam hatiku rasa dendam terhadap sesama muslim dan tidak punya rasa iri (hasad) terhadap sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya.”
Lalu Abdullah bin ‘Umru berkata: “Itulah sesuatu yang engkau telah memiliki dan yang kami tidak mampu.”

KEUTAMAAN BERSIKAP LEMAH LEMBUT DAN PEMAAF
Dari pelajaran di atas, jelaslah bahwa kelembutan merupakan sifat ahli iman yang sempurna, dan merupakan cirri khusus Ahli Sunnah wal Jama’ah. Allah berfirman (yang artinya)”

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dna telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr[59]: 9)

Dalam ayat di atas Allah telah memuji orang-orang Anshar dengan beberapa pujian, para ulama ahli tafsir berkata: “Yang dimaksud dengan (ولا يجدون في صدورهم حاجة مّمّا أوتوا) adalah tidak terdapat dalam hati mereka rasa iri dan dengki kepada nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum muhajirin, dari kedudukan, tingkatan, dan penyebutan (Muhajirin lebih didahulukan ketimbang penyebutan Anshar).”

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (artinya):
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”. (QS. al-Hasyr[59]: 10)

Artikel oleh cambuk-hati.web.id
Penulis: Ustadz Abu Qotadah